Page Nav

Breaking News:

latest

Warna-warni Kefamenanu di Tenun Buna

Kefamenanu - Keindahan alam dan budaya Nusantara memang tidak ada habisnya, mulai dari kerajinan tangan hingga hasil alam. Hal itu terlih...


Kefamenanu - Keindahan alam dan budaya Nusantara memang tidak ada habisnya, mulai dari kerajinan tangan hingga hasil alam. Hal itu terlihat di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sayangnya, pilihan moda transportasi umum menuju Kota Kefamenanu masih terbatas, sehingga kebanyakan pendatang ataupun wisatawan menyewa kendaraan dari Kupang dan menempuh perjalanan sekitar lima jam menuju Kefamenanu. 

Namun, waktu tempuh yang panjang terbayar dengan keindahan alamnya. Saat menempuh perjalanan ke Kefamenanu, ada sebuah desa bernama Miomafu yang terkenal dengan kerajinan kain tenun buna yang memikat. Kain penuh warna itu memiliki tekstur menonjol mirip tenun ikat. Motifnya didominasi garis dan belah ketupat. Masing-masing warna memiliki arti, yaitu warna ungu untuk upacara kedukaan; hitam untuk upacara adat; merah, hijau, kuning, dan warna cerah lainnya, untuk suasana sukacita seperti pernikahan.

Proses menenun kain buna dilakukan secara tradisional oleh kaum perempuan Kefa. Sebagian besar perempuan di sana menjadi penenun. Keindahan warna-warni tenun buna berasal dari benang diberi pewarna alami.

Amat disesali, proses pemasaran kain tenun buna tidak efektif, sehingga perajin memanfaatkan hari pasar seminggu sekali untuk menjual hasil karya mereka. Saat hari pasar tiba, setiap orang dari penjuru NTT, bahkan negara tetangga Timor Leste, datang membeli kain buna.

Selain tenun buna, Kefamenanu juga kaya akan hasil alam batu marmer dan batu merah. Salah bangunan yang menggunakan batu merah asli Kefamenanu adalah Gereja Santo Antonius Padua Sasi. Dilihat dari bentuknya, gereja tersebut tidak seperti gereja di NTT pada umumnya.

Desainnya unik, berwujud setengah lingkaran dan dibuat dari batu alam berwarna merah. Menurut warga lokal, pembangunan gereja ini tanpa menggunakan alat berat. Seluruh proses pembangunan dikerjakan manual selama tiga tahun dengan gotong royong para jemaat gereja. Dengan arsitektur mediterania, bagian luar Gereja Sasi memiliki daya tarik tersendiri untuk lokasi foto.

No comments